Sabtu, 29 Agustus 2015

PROFESI KEPENDIDIKAN (Tugas 1)

Dalam kehidupan sehari – hari sering kita dengar istilah profesi atau profesional. Misalnya sesorang mengatakan bahwa profesinya adalah seorang dokter, yang lain mengatakan bahwa profesinya adalah arsitek, pengacara, guru, penyanyi, pedagang, petinju, penari, dan lain – lain. Ini berarti jabatan mereka juga merupakan sebuah profesi.
Pengertian profesi menurut Dr. sikun Pribadi 1976 :
“Profesi itu pada hakikatnya adalah suatu pernyataan atau suatu janji terbuka, bahwa seseorang akan mengabdikan dirinya kepada suatu jabatan atau pekerjaan dalam arti biasa, karena orang tersebut merasa terpanggil untuk menjabat pekerjaan itu”.
Kebanyakan kita mengatakan bahwa mengajar adalah suatu profesi. Apakah yang dimaksud dengan profesi, dan syarat-syarat serta kriteria yang harus dipenuhi agar suatu jabatan dapat disebut suatu profesi. Ornstein dan Levine (1984) menyatakan bahwa profesi itu adalah jabatan yang sesuai dengan pengertian profesi dibawah ini:
a)     Melayani masyarakat, merupakan karier yang akan dilaksanakan sepanjang hayat (tidak berganti-ganti pekerjaan)
b)    Memerlukan bidang ilmu dan keterampilan tertentu di luar jangkauan khalayak ramai (tidak setiap orang dapat melakukannya)
c)     Menggunakan hasil penelitian dan aplikasi dari teori ke praktek (teori baru dikembangkan dari hasil penelitian).
d)    Memerlukan pelatihan khusus dengan waktu yang panjang.
e)     Terkendali berdasarkan lisensi baku dan atau mempunyai persyaratan masuk ( untuk menduduki jabatan tersebut memerlukan izin tertentu atau ada persyaratan khusus yang ditentukan untuk dapat mendudukinya)
f)      Otonomi dalam membuat keputusan tentang ruang lugkup kerja tertentu (tidak diatur oleh orang luar)
g)    Menerima tanggung  jawab terhadap keputusan yang diambil dan unjuk kerja yang ditampilkan yang berhubungan dengan layanan yang diberikan (langsung bertanggung jawab terhadap apa yang diputuskannya, tidak dipindahkan ke atasan atau instansi yang lebih tinggi). Mempunyai sekumpulan unjuk kerja yang baku.
h)    Mempunyai komitmen terhadap jabatan dan klien dengan penekanan terhadap layanan yang akan diberikan.
i)       Menggunakan administrator untuk memudahkan profesinya, relatif bebas dari supervisi dalam jabatan (misalnya dokter memakai tenaga administrasi untuk mendata klien, sementara tidak ada supervisi dari luar terhadap pekerjaan dokter sendiri).
j)       Mempunyai organisasi yang diatur oleh anggota profesi sendiri
k)    Mempunyai asosiasi profesi dan atau kelompok ’elit’ untuk mengetahui dan mengakui keberhasilan anggotanya (keberhasilan tugas dokter dievaluasi dan dihargai oleh Organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI), bukan oleh Departemen Kesehatan).
l)       Mempunyai kode etik untuk menjelaskan hal-hal yang meragukan atau menyangsikan yang berhubungan dengan layanan yang diberikan.
m)  Mempunyai kadar kepercayaan yang tinggi dari publik dan kepercayaan diri setiap anggotanya (anggota masyarakat selalu meyakini dokter lebih tahu tentang penyakit pasien yang dilayaninya)
n)    Mempunyai status sosial dan ekonomi yang tinggi (bila dibanding dengan jabatan lainnya)
Sebagai calon guru, adalah suatu keharusan bagi saya memiliki latar belakang pengetahuan tentang keprofesionalitasan dalam suatu pekerjaan terutama profesionalitas guru. Nah, pada semester 7 ini saya akhirnya menempuh mata kuliah Profesi Kependidikan. Pada semester sebelumnya, saya juga mempelajari sedikit mengenai tata cara menjadi guru yang profesional pada mata kuliah Pengembangan Profesionalitas, tetapi menurut saya sendiri untuk menjadi guru yang profesional itu tidak cukup dengan hanya mempelajari bagaimana cara untuk menjadi seorang guru yang profesional tetapi kita juga perlu untuk memahami makna dari profesional itu sendiri.
Seperti yang kita ketahui menjadi guru yang profesional itu tidaklah gampang, apalagi dengan adanya tunjangan bagi guru profesional yang diberikan oleh pemerintah yaitu sertifikasi. Tunjangan ini sebenarnya merupakan tolak ukur bagi seorang guru dalam melaksanakan kewajibannya yaitu mengajar. Namun, tidak jarang kita jumpai justru guru yang mendapatkan sertifikasi tetapi masih belum memenuhi atau belum menunjukkan sifat profesionalnya, misalnya saja datang terlambat.
Bahkan banyak sekali kita temukan hampir di semua sekolah guru mengajar tidak dibidangnya. Dan yang paling banyak kita temui yaitu mata pelajaran seni budaya dan TIK. Yang menjadi bahan pertanyaan saya adalah bagaimanakah cara mengukur keprofesinalitasan guru – guru tersebut ? sedangkan mereka saja tidak terlalu ahli dalam mata pelajaran yang mereka ajarkan. Walaupun pada dasarnya guru – guru tersebut bisa saja mengajar dengan mengandalkan buku atau LKS yang telah disediakan oleh sekolah, namun hal tersebut tidak bisa menjamin profesionalitas kerja guru tersebut. Apalagi dengan adanya smartphone yang bisa membantu siswa mengakses apapun baik itu tentang mata pelajaran yang sedang diajarkan maupun bahan ajar yang belum diajarkan sama sekali sehingga tidak menutup kemungkinan siswa lebih banyak tahu dibandingkan dengan guru yang mengajar mata pelajaran tersebut.
Berbicara masalah pendidikan tidak akan ada habisnya, setiap tahun pasti saja ada isu – isu terbaru terkait dengan masalah kependidikan di Indonesia. Entah itu mengenai kurikulum yang sering berubah – ubah, problematika yang terjadi di setiap sekolah bahkan isu mengenai kinerja guru yang sering kali dipertanyakan oleh masyarakat awam.


Daftar Pustaka
Hamilik, Oemar. 2002. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. Bumi Aksara : Jakarta
Soetjipto. 2004. Profesi Keguruan. Rineka Cipta : Jakarta

Senin, 29 Desember 2014

Hunting tugas UAS intermedia



 
Pantai. Jika kita menyebut tempat yang satu ini, maka yang terlintas dalam benak kita adalah hamparan laut yang indah dengan pasir putih serta kehidupan pesisir yang elok. Namun, tanpa kita sadari bahwa saat ini pantai – pantai yang ada tidak seindah yang kita bayangkan. Pantai tersebut sudah tercemar oleh sampah serta kegiatan manusia lainnya. Kali ini saya dan teman – teman saya mendapatkan tugas yang akan dijadikan sebagai tugas akhir pada mata kuliah Intermedia yaitu mengunjungi salah satu pantai di daerah Singaraja tepatnya di pantai Secata, sebelah timur daerah Buleleng dan membuat karya seni dari bahan – bahan bekas atau bahan alami yang terdapat di sekitar pantai tersebut. Tugas ini bertujuan untuk melatih kepekaan rasa  kita sebagai calon perupa terhadap lingkungan sekitar. Dan benar saja, keadaan pantainya sangat memprihatinkan. Ada banyak sekali sampah berserakan. Walaupun demikian masyarakat sekitar masih bisa hidup dengan nyaman di sekitar pantai tersebut.
Banyak sekali ide – ide kreatif yang muncul ketika melihat sampah – sampah yang ada di sekitar pantai tersebut. Lihat saja beberapa karya teman – teman saya berikut.








Saya sendiri membuat sebuah boneka dengan memanfaatkan batok kelapa dan beberapa sampah lainnya yang saya temukan di sekitar pantai tersebut. Tidak ada konsep khusus yang saya pikirkan pada pembuatan boneka ini, namun saya menggambarkan boneka tersebut sebagai seorang anak kecil yang sedang bermain di sekitar pantai. Walaupun dengan keadaan pantai yang seperti sekarang ini tetapi mereka tetap bisa bermain dan tidak kehilangan masa kecil mereka. 

Lingkungan memang menjadi faktor utama terhadap pertumbuhan generasi. Kepekaan rasa dan kepedulian terhadap kehidupan sosial dan lingkungan sekitar merupakan salah satu anugerah Tuhan yang diberikan kepada kita, terutama bagi para seniman yang konon memiliki kepekaan rasa yang sangat kuat terhadap lingkungan diharapkan bisa menghasilkan karya sni yang bisa menggugah jiwa dan hati para penikmatnya untuk ikut merasaan keprihatinan kita terhadap lingkungan kita saat ini. 

Sumber 
Foto pantai http://www.telusurindonesia.com/wp-content/uploads/2014/11/kuta.jpg
 

Go45titTut




Seni Rupa adalah sebuah konsep atau nama untuk salah satu cabang seni yang bentuknya terdiri atas unsur-unsur rupa yaitu garis, bidang, bentuk, tekstur, ruang dan warna.Unsur-unsur rupa tersebut tersusun menjadi satu dalam sebuah pola tertentu. Tugas intermedia kali memberikan nilai lebih kepada mahasiswa pendidikan seni rupa, di mana kita dilatih untuk mengeksplorasi seni dalam bentuk yang berbeda yaitu dengan memadukan perkembangan kesenian dengan perkembangan teknologi. Salah satu perkembangan teknologi yang bisa dimanfaatkan yaitu maraknya video – video yang muncul sebagai hasil kreativitas generasi – generasi muda saat ini seperti video mapping, stop motion, dan short film.
Nah, kali ini kita mendapat tugas untuk membuat short film dengan memanfaatkan body painting. Saya pikir tugas kali ini akan sangat menyenangkan, mengingat perkembangan gadget yang sangat pesat sehingga mahasiswa akan bisa memanfaatkan gadget yang mereka punya untuk bisa menghasilkan karya seni dalam bentuk media baru. Tugas ini merupakan tugas kelompok, namun akan mendapat penilaian individual dari body painting yang kita lakukan.
Dengan memanfaatkan cat acrylic kami membuat beberapa hand painting antara lain bebek, angsa, jerapah dan zebra. Konsep pembuatan video ini adalah dunia anak – anak yang penuh dengan keceriaan dan canda tawa. Namun kami menambahkan unsur komedi didalamnya agar video ini tidak terasa membosankan bagi para penonton. 







Video ini menceritakan 5 sahabat yang akan berangkat sekolah, namun ternyata untuk mencari ilmu itu tidak segampang yang mereka bayangkan, mereka harus melewati rintangan yang berat  untuk bisa sampai ke sekolah. Dan dengan keteguhan hati dan semangat yang membara mereka tetap melewati rintangan yang menghadang mereka, dan akhirnya merekapun berhasil sampai ke sekolah dengan selamat. 

Selamat menyaksikan :)

Jumat, 26 Desember 2014

INSTALASI



“Missing the Rain”
Oleh
Nurul Iman





         Seni instalasi (installation = pemasangan) adalah seni yang memasang, menyatukan, dan mengkontruksi sejumlah benda yang dianggap bisa merujuk pada suatu konteks kesadaran makna tertentu. 
            Konsep instalasi yang saya buat dengan judul “Missing the rain” ini adalah melihat keadaan cuaca bumi yang saat ini yang sudah tidak menentu baik itu kemarau maupun hujan, terutama di daerah Singaraja. Bisa kita rasakan sendiri bagaimana panasnya kota Singaraja. Dengan keadaan cuaca yang semakin panas akhir – akhir ini orang selalu bertanya – tanya kapan akan turun hujan. Oleh karena itu saya membuat instalasi ini bertujuan untuk menggambarkan kerinduan kita akan turunnya hujan. Awan putih dengan benang yang bergantungkan akan menggambarkan hujan yang turun. Sedangkan obor yang dibakar menandakan protes terhadap perilaku manusia yang tidak menyadari bahwa keadaan cuaca yang tak menentu saat ini yang sebenarnya karena ulah manusia sendiri.
Lokasi yang saya pilih yaitu lapangan kampus tengah Undiksha, di mana lapangan kampus tengah selalu ramai dilewati oleh mahasiswa maupun dosen dengan harapan mereka akan mengkritik dan tidak hanya melihat saja. 


Bahan yang digunakan dalam pembuatan instalasi ini adalah sterofom atau gabus untuk awannya yang di dalamnya akan dipasang lampu dan akan digantung benang berwana putih. Sedangkan penyangganya menggunakan kayu atau bambu.